Kaya Dengan Berzakat Dan Bersedekah

 

Rasulullah SAW sukses membangun masyarakat yang adil dan sejahtera di atas landasan kasih sayang, antara lain dengan sedekah. Sedekah merupakan salah satu pilar terpenting dalam mendistribusikan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Sedekah juga merupakan solusi dalam memecahkan berbagai persoalan umat.
Banyak sekali hikmah yang bisa kita petik dari keteladanan Nabi Muhammad SAW. Misalnya, tentang kegemaran Beliau melaksanakan shalat Tahajud atau qiyamullail. Beliau tak pernah meninggalkan shalat Tahajud. Kalau sampai terjadi Beliau tak sempat melaksanakan qiyamullail, maka siang harinya Beliau menggantinya. Begitu seriusnya Beliau menegakkan shalat Tahajud tersebut, sampai-sampai diceritakan, bahwa kaki Beliau bengkak-bengkak karena terlalu lama berdiri.
Istri tercinta Beliau, Siti Aisyah, dengan penuh kelembutan berkata, “Mengapa engkau begitu keras melakukan qiyamullail tiap malam, padahal Allah telah menjamin dosa-dosa engkau diampuni?” Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW menjawab, “Apakah salah, kalau aku menjadi hamba Allah yang senang bersyukur?”
Jadi, shalat Tahajud itu sebagai bukti syukur Beliau kepada Allah SWT. Hikmah lainnya adalah kerendahan hati Beliau kepada siapa pun. Sampai-sampai dikatakan, Rasulullah SAW itu sangat pemalu seperti pemalunya wanita. Rasulullah SAW merupakan lelaki yang sangat pengasih kepada istri dan anak-anaknya.
Beliau berpesan, “Berlaku baiklah kamu kepada istri-istrimu, dan ketahuilah, sesungguhnya akulah laki-laki yang terbaik terhadap istri-istriku.”
Rasulullah Gemar Bersedekah dan Menolong Anak Yatim
Salah satu hikmah terpenting lainnya adalah kegemaran Beliau bersedekah. Rasulullah adalah pribadi yang sangat menyayangi dan suka menolong anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Beliau dikenal sebagai orang yang paling senang bersedekah dan paling banyak sedekahnya. Apalagi di bulan Ramadhan, makin bertambah-tambah sedekahnya.
Sukses Rasulullah SAW membangun masyarakat Muslim yang sejahtera, adil dan makmur, tidak lepas dari sedekah. Rasulullah SAW berhasil membangun masyarakat adil dan makmur di atas landasan kasih sayang, antara lain sedekah.
Sedekah itu artinya sangat luas. Tidak hanya berupa mengeluarkan harta benda untuk orang-orang dhuafa. Mengusap kepala anak yatim juga termasuk sedekah. Membantu orang-orang tua yang kesulitan melangkah atau membawa sesuatu, juga termasuk sedekah. Bahkan, menyingkirkan duri dari jalan juga termasuk sedekah.
Tentu saja, tidak kalah pentingnya adalah sedekah dalam bentuk harta benda. Semasa hidupnya, Rasulullah SAW sering mengemukakan keharusan dan keutamaan zakat dan sedekah. Ada cerita tentang Tsa’labah yang hidupnya bertahun-tahun didera kemiskinan. Ia sangat rajin ibadah, dan sering minta kepada Nabi SAW, agar didoakan menjadi orang yang kaya.
Nabi, pada mulanya tidak mau langsung mengiyakan. Namun Tsa’labah berkali-kali meminta. Akhirnya suatu hari, Nabi SAW memberinya kambing untuk diternakkan. Awalnya, ketika jumlah kambingnya masih sedikit, Tsa’labah masih sempat dan rajin melaksanakan shalat berjamaah di masjid.
Namun makin lama, dia makin disibukkan oleh urusan memelihara ternak kambing itu, sehingga shalat jamaahnya pun jadi bolong-bolong. Makin lama, ia pun makin jarang shalat berjamaah. Ketika usaha ternak kambingnya makin maju, Tsa’labah diperintahkan oleh Nabi SAW untuk mengeluarkan zakat. Namun ia menunda-nundanya terus. Sampai akhirnya, Allah menghancurkan usaha ternaknya itu.
Tsa’labah menolak membayar zakat, itu urusan lain, namun pesan yang terkandung dalam cerita ini adalah kewajiban mengeluarkan zakat bagi setiap Muslim yang mampu. Di samping keutamaan untuk mengeluarkan sedekah tentunya.
Ada kisah lain di zaman Rasul. Seorang nenek tua datang kepada Rasul sambil mengeluh. “Ya, Rasul, alangkah enaknya orang-orang kaya itu. Mereka shalat dan puasa sebagaimana kami shalat dan puasa. Namun mereka bisa bersedekah dengan harta mereka, sedangkan kami tidak bisa.”
Rasul mengatakan, bahwa sedekah itu tidak hanya berupa harta dan benda, tapi juga bisa berupa kalimat-kalimat dzikir, seperti Subhanallah, walhamdulillah, walaailaaha illallah wallaahu akbar. Namun, mendengar ucapan Nabi, wanita itu berkata lagi, “Orang-orang kaya itu pun bisa berdzikir dan mereka bersedekah dengan hartanya.”
Apa pesan hadits ini? Sebagai Muslim kita perlu menjadi orang kaya, antara lain agar bisa berzakat dan bersedekah. (Oleh: Yusuf Mansyur)

Komentar